Siang itu sedikit berbeda dari hari sebelumnya. Udara yang dihembuskan oleh dedaunan terasa cukup menyengat. Memasuki hari kelima berpuasa di bulan ramadhan kemarin, itulah yang teringat di benakku. Malam ini, ingatan itu seolah kembali menghantuiku, hari dimana aku memutuskan untuk membawa ayahku masuk kembali ke apartemen yang sama sekali tidak diinginkannya. Mungkin itulah sebutan yang aku dan ibuku berikan untuk sebuah tempat bagi orang sakit ini, sekedar menghibur diri, agar kesan rumah sakit tidak terlalu membebani kami tentunya. Malam ini aku berada di VIP 9, Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Kembali aku ingin ceritakan peristiwa di siang hari, saat aku pulang dari tempatku mencari nafkah. Ibuku menyambut dengan wajah yang tidak bisa dilukiskan, apakah sedih, panic, setengah tersenyum atau seolah ingin tertawa . “ kak.. panggilan ini adalah sebutan hangat untuk aku yang notabene anak tertua di keluarga, tadi ayah turun dari tempat tidur, dia bergerak sendiri, kebetulan ibu lagi di kamar mandi,dia tidak bisa berjalan, jadi di menyeret badannya ke ruang tengah” Sedikit terbata ibuku bercerita, aku kaget, “ ayah tidak jatuh kan bu?” ibu mengangguk, dia terjatuh saat turun dari tempat tidur, karena kakinya tidak kuasa menahan berat bobotnya” Aku terbelalak, adakah bagian yang sakit? Ibu menggeleng, kata ayah tidak ada, hanya yang lebih sedihnya, saat kembali ke kamar, ibu tidak kuat mengangkat tubuh ayah, jadi dia kembali menyeret tubuhnya ke kamar” sambil berkaca-kaca ibu menceritakan hal itu. “Bu, kita harus bawa ayah ke rumah sakit” akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Sudah hampir 1 tahun, penyakit kanker menggerogoti tubuh ayahku. Saat pertama kali beliau divonis mengidap penyakit mematikan itu, beliau sangat depresi, berat badannya pun turun drastis, karena nafsu makannya tidak ada sedikitpun. Semua tempat kami coba, mulai dari pengobatan alternative dengan jamu, pengobatan dengan tenaga dalam, pengobatan dengan air, sampai akhirnya kami harus masuk apartemen Dharmais ini. Dan atas izin Allah SWT, lewat orang-orang di apartemen ini lah, alias dokter spesialis onkologi ( kanker), perawat, pramuhusada, petugas lab, admission sampai cleaning service, membuat ayahku bisa ditolong. Beliau diberi kesehatan kembali. Sel kanker yang ada di paru-paru dan hatinya sangat peka dengan obat kanker, yaitu cisplatin dan kampto. Suatu keberhasilan yang bermanfaat di bidang kedokteran, karena dokter yang merawat mengatakan bahwa obat ini adalah kombinasi baru yang dia berikan. 6 Februari 2008 ayah keluar dari Dharmais setelah dirawat sejak 21 Desember 2007, dan sebelumnya ayah dirawat di RS. Honoris Tangerang, sejak 15 November 2007 sampai 20 Desember 2007.
Tapi rupanya Allah berkehendak lain, minggu lalu tepat 2 hari sebelum ramadhan, ayah jatuh sakit, keluhan awal ada di tulang belakang, nyeri hebat muncul di perbatasan pinggang dan punggungnya, peristiwa ini sangat cepat, 2 hari kemudian beliau susah buang air kecil dan tepat hari kelima ramadhan beliau resmi tidak bisa berjalan. Hari ini aku dan ibuku memutuskan untuk membawanya ke Siloam Hospital untuk di MRI, aku sangat khawatir kalau sel kanker mungkin sudah bermukim juga di sel-sel tulang belakangnya.
Gayung bersambut, ternyata dugaanku terbukti, dari ruang MRI dokter sudah mulai menginterprestasi hasil pemeriksaan, dan karena pintu ruangan tidak tertutup rapat, suara para ahli medis itu terdengar seperti petir di telingaku. “ wah, lihat deh, semua tulang belakangnya sudah dipenuhi sel kanker, dan di daerah Th11 sampai L1 sudah menekan sarafnya, sehingga sakit yang luar biasa hebat tak bisa ditolak oleh ayah. Hmm, kasihan sekali tubuh gagahnya terlihat tak berdaya dengan rasa sakit itu. Air mataku seolah tumpah dari sumbernya, aku terisak, tergugu, “ Ya Alloh, Engkau pasti tidak salah menurunkan cobaan kepada hamba-Mu, tapi apakah aku pantas menerimanya, aku takut, aku merasa tidak sanggup” Laa haulawala kuwataillabillahil alihiladzim…” Tiada daya dan upaya selain pertolongan dari Mu, ya Alloh…
Hari berganti hari, seminggu, 2 minggu, 3 minggu, kami lalui di RS. Kanker Dharmais, setelah dirawat di Siloam ayah dirujuk kembali ke Dharmais, ayah di pegang oleh 1 timmedis, yang terdiri dari spesialis onkologi, saraf, paru, rehabilitasi medis, urologi. Duh, pelayanan terbaik diberikan oleh tim ini dan didukung oleh paramedis yang cekatan. Mungkin ini berkah, atau kata temanku di kampus dulu ini ibroh, atau i’tibar dari semua masalah yang dihadapi. Kebetulan aku mengambil S2 Administrasi Rumah Sakit,sejak Agustus 2007 lalu, karena aku tidak berkecimpung langsung di rumah sakit, tentunya agak susah untuk menggali dan mengerti rumah sakit. Tapi ternyata, dengan sakitnya ayah, aku keluar masuk rumah sakit, dan sebagai pasien. Dengan cara pandang yang berbeda ini, membuat aku berada dalam posisi yang menerima pelayanan, aku merasakan betul bagaimana kepuasan kami terhadap sarana rumah sakit, layanan dokter, layanan keperawatan sampai yang paling penting biaya rumah sakit. Dan tentunya kami bisa membedakan bagaimana RS. Kanker Dharmais, RS.Honoris dan RS siloam. Ilmu yang aku dapat di kampus bisa langsung aku lihat saat aku di rumah sakit menjaga ayah, karena terus terang, selama ayah sakit, otomatis aku juga menginap di apartemen Dharmais ini untuk menjaga beliau.
Begitulah, ramadhan kami jalani di rumah sakit, aku benar-benar bangga dengan semangat ayah dalam melawan penyakitnya. Tapi ternyata Alloh, lebih menyayangi ayah dibandingkan kami semua, tepat 11 hari setelah Idul fitri, yaitu tanggal 12 Oktober 2008, ayah menghadap Ilahi. Sakit rasanya hati ini, lemah lunglai seluruh tulang di badan ini, kenapa dia begitu cepat meninggalkan kami. Masih terbayang gagahnya dia, masih ternginang suara bass nya, masih tergambar canda-candanya. Dia begitu berharap aku bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
” Ayah…………….semua kau berikan untuk aku, tidak Cuma kasih sayangmu, cintamu, bahkan sakitmu” Aku belajar banyak dari sakit mu, dari pengalaman kita di apartemen Dharmais, dari tabahnya engkau menerima sakitmu…..” Ya Alloh, aku masih belum kuat untuk melanjutkan hidup ini, aku masih belum kuat untuk memulai kembali perjuanganku di kampus UI, tapi aku harus…..harus melihat ke depan, aku akan berusaha ayah…selain doa yang bisa ku kirimkan padamu…..gelas MARS yang insya Alloh akan aku dapat nanti khusus aku persembahkan untuk mu…
” Selamat jalan ayah……satu janjiku…………….aku akan setia memberi doaku untukmu……………………InsyaAlloh kita dapat berkumpul kembali..amien..”
-Fika-
Kamis malam 9/10/08, VIP 9 Dharmais ( 3 hari sebelum ayah meninggal) dan cerita ini diselesaikan kamis 23/10/08